-->
thumbnail

Budaya Ngopi di Kios Kopi

Posted by sunariyo on Wednesday, August 29, 2018

Budaya Ngopi di Kios Kopi tidak ditemukan di Aceh sampai dengan menjelang akhir Abad ke-19. Seorang orientalis yang menjadi peneliti sosial budaya, Snouck Hurgronye menulis pada buku Aceh Di Mata Kolonialis (Jilid I), pada masa ia meneliti orang-orang Aceh, “Bagi kebanyakan orang biasa di Aceh, air putih adalah hampir satu-satunya minuman, dari waktu ke waktu (sesekali) ia akan minum air tebu, diperas dari batangnya hanya dengan alat yang masih sangat primitif. 

Dari keadaan inilah mungkin datangnya istilah “ngon bloe ie teubee” artinya kurang lebih : “uang pembeli air tebu” apabila dimaksudkan adalah memberi upah atau imbalan.
10:50 PM
thumbnail

Sejarah Kopi Aceh

Posted by sunariyo on

Sejarah Kopi Aceh  berasal dari Belanda yang dibawa oleh seorang pengusaha Belanda pada abad XVII melalui Batavia (sekarang Jakarta) lalu masuk ke Aceh. Kopi yang pertama sekali diperkenalkan adalah kopi jenis Arabica yang kemudian berkembang dengan jenis yang makin beragam.
Di dunia, kopi bisa dibedakan menjadi 2 kelompok berdasarkan jenisnya, yaitu kopi Arabica dan kopi Robusta. Di Aceh kedua jenis kopi ini dibudidayakan oleh masyarakat setempat. 

Kopi jenis Arabica umumnya dibudidayakan di wilayah dataran tinggi Tanah Gayo, termasuk Takengon, Aceh Tenggara, dan Gayo Lues. Sedangkan di Kabupaten Pidie (terutama wilayah Tangse dan Geumpang) dan Aceh Barat, masyarakat lebih menyukai mengembangkan kopi jenis Robusta.

Kondisi alam Aceh yang subur, dipadu cuaca yang mendukung, menjadikan tanaman kopi Aceh berkembang menjadi komoditas yang bermutu tinggi dan menguntungkan. Indonesia merupakan pengekspor biji kopi terbesar keempat di dunia, dan Aceh adalah salah satu penghasil kopi terbesarnya yang mampu menghasilkan sekitar 40% biji kopi jenis Arabica tingkat premium dari total panen kopi di Indonesia.
10:44 PM